Kampung Pencopet

“Lari…ayo cepat lari…” teriakku dalam hati kepada seorang bocah yang mungkin berumur sebelas tahun. Di belakang bocah itu, ada segerombol manusia yang juga ikut berlari seraya berteriak “copet”. Aku kasihan melihat bocah yang pasti akan tertangkap oleh gerombolan manusia yang mengejarnya. Akhirnya aku pun memutuskan untuk ikut berlari bersama segerombolan orang tersebut.

Aku bersyukur bocah itu lolos. Rupanya bocah yang memakai pakaian bapaknya itu telah terlatih untuk melarikan diri dari kejaran massa dengan cara menyelinap di gang-gang sempit dan melewati jalan tikus yang hanya muat untuk tubuh kecilnya. Nada-nada kekecewaan terdengar jelas dari para pengejar bocah cilik tadi. Ibu yang dompetnya di copet oleh bocah tadi menangis histeris. Aku lalu memberi ibu itu dengan sebotol air minum. Ibu itu kemudian mengucapkan terima kasih kepadaku. Setelah ibu itu mulai tampak tenang dan kerumunan orang-orang tadi sudah membubarkan diri, aku memberanikan bertanya kepada ibu yang dompetnya baru saja di copet itu.

“Mengapa ibu bisa kecopetan ?” tanya aku berbasa-basi. Gayaku layaknya wartawan kriminal. Walau agak ragu untuk menceritakan kejadian naas yang dialaminya kepadaku, ibu itu akhirnya membuka suara juga.

“Waktu itu saya membeli beras di pasar, ketika saya mengeluarkan dompet untuk mengambil uang tiba-tiba saja pencopet kecil itu langsung meraup dompetku dan kabur. Saya berteriak copet…copet…tapi hanya beberapa saja yang peduli dengan teriakanku dan mengejar copet itu. Sedangkan yang lainnya bingung harus berbuat apa” tutur ibu yang memiliki berat sekitar tujuh puluh kilogram itu.

“Jadi ibu kehilangan apa saja ?” tanyaku menyelidik.

“Uang sejumlah tiga ratus ribu ditambah dua kartu ATM, KTP, kartu kredit” ibu itu berhenti sejenak. Memikirkan benda yang turut raib bersama dompetnya. Namun ibu itu tidak kunjung melanjutkan ucapannya dan mata ibu itu mulai kembali berkaca. Aku tidak bertanya lagi, takut tangis ibu itu pecah. Akhirnya aku menaikkan ibu itu naik ke atas taksi dan memberinya uang untuk membayar taksi. Ibu itu mencium telapak tanganku berterima kasih. Aku menerima perlakuan ibu itu dengan perasaan malu. Taksi semakin menjauh dan rasa bersalah di dadaku belumlah pudar.
***

Sebenarnya aku tahu siapa pencopet cilik itu. Siapa namanya dan dimana bocah pencopet itu tinggal. Aku semakin merasa bersalah ketika mulutku ini tidak mengatakan yang sejujurnya kepada ibu tadi. Aku lalu berjalan pulang dengan perasaan bersalah. Perasaan bersalah yang hampir setiap hari menyapa diriku setiap kali bocah cilik itu melakukan aksi copet dan aku selalu tidak berdaya untuk mencegahnya apalagi memberitahukan kepada si korban bahwa aku mengenal pencopet itu dan tahu dimana dia tinggal.
***

Murlan, bocah pencopet itu nampak menghitung uang yang berada di dalam dompet yang dicopetnya. Aku menghampirinya yang sedang duduk di depan rumahnya yang terbuat dari deretan papan dan beralaskan seng aluminium yang sudah berkarat. Tepat di depan rumahnya, rumahku yang kondisinya jauh lebih baik dari kondisi rumah Murlan berdiri tegak.

“Jadi kapan kamu mau tobat ?” tanyaku kepada Murlan. Pertanyaan yang selalu kutanyakan kepadanya ketika aku bertemu dengannya.

“Kapan-kapan. Mungkin kalau aku sudah menjadi orang kaya” jawabnya santai. Perilaku Murlan yang buruk terbentuk dari kondisi lingkungan tempat tinggal yang terkenal dengan nama jahatnya ‘kampung pencopet’. Dijuluki kampung pencopet karena hampir seluruh penghuni kampung yang berjumlah sekitar seratus kepala keluarga berprofesi sebagai pencopet, rampok, pemalak, dan profesi yang melanggar hukum lainnya. Aku juga tidak menyangkal bahwa Bapakku juga salah satu di antara mereka. Bapakku spesialis perampok rumah penduduk, namun profesinya itu diakhiri ketika peluru panas polisi bersarang di kakinya, dan ditemukan meninggal di sebuah pinggir sawah keesokan harinya. Diduga bapak meninggal karena pendarahan. Untunglah profesi bapakku tidak menurun kepada diriku yang merupakan anak satu-satunya. Ibuku selalu menempa aku dengan didikan agama yang ketat, disiplin, dan pendidikan yang tinggi hingga kini aku berprofesi sebagai pengacara.

“Murlan…aku tahu mengapa kamu menjadi pencopet. Itu karena kini kamu sebagai tulang punggung keluarga. Bapak kamu masih dipenjara dan tidak akan keluar dari penjara hingga dua tahun ke depan. Tapi itu bukan berarti kamu harus mencari uang dengan cara mengikuti profesi bapak kamu sebagai pencopet dan bahkan sebagai pengedar narkoba. Kalau kamu mau sekolah dan berhenti menjadi pencopet, aku mau membiayai sekolah kamu” aku membujuk Murlan. Berharap secuil jiwa kebaikan dalam diri Murlan tergerak. “Belum terlambat jika kamu mau sekolah. Umur kamu masih sebelas tahun. Perjalanan hidup kamu masih panjang” . Murlan terdiam. Dalam hati aku berharap Murlan mau menerima tawaran yang selalu aku tawarkan kepadanya hampir setiap hari.

“Kalau aku sekolah, bagaimana nasib ketiga adikku yang butuh makan. Apalagi ibu juga jarang pulang ke rumah. Kalaupun ibu pulang, itupun hanya sebentar kemudian pergi lagi” suara Murlan terdengar tertahan. Bocah kecil yang terpaksa hidup dengan menanggalkan masa kecil yang penuh kebahagiaan.

“Kamu tidak perlu khawatir soal itu. Walau uang aku tidak banyak, tapi aku masih bisa membiayai kamu sekolah dan membiayai hidup ketiga adikkmu. Aku tahu kamu anak yang pintar dan kuat, makanya mengapa aku memaksa kamu untuk bersekolah. Sebab Negara kita butuh figur seperti dirimu sepuluh, duapuluh, bahkan tiga puluh tahun kedepan. Anak yang memiliki sikap bertanggung jawab, memiliki pendirian yang kuat, dan penuh kasih”. Kedua mataku tak dapat menahan lelehan air mata kasihan buat Murlan. Aku tahu Murlan adalah anak yang baik dan bertanggung jawab.
“Baik…aku mau sekolah. Asalkan kamu mau menepati janjimu. Membiayai hidup ketiga adikku. Dan aku akan belajar sebaik mungkin, bahkan lebih hebat daripada kamu” suara Murlan terdengar bersemangat. Ia menghapus air mata yang menggantung di pipinya dan menyunggingkan senyum yang jarang ia perlihatkan.
***

Semenjak itu Murlan berubah. Ia tidak lagi menjadi pencopet dan mulai bersekolah, ia menjalani pendidikan agama seperti yang aku lakukan ketika kecil dulu. Dan sesuai janjiku, akhirnya aku merawat ketiga adik Murlan. Sedangkan ibu Murlan tidak pernah kembali lagi, kabar terakhir yang kuterima bahwa ibu Murlan ditemukan tewas di pinggir sungai hingga kini siapa dan apa motif sang pembunuh belum diketahui. Aku tidak mengabarkan berita ini kepada Murlan maupun ketiga adiknya. Murlan pun tidak pernah menanyakan keberadaan ibunya. Bapak Murlan masih mendekam di penjara, dan ketika aku menjenguknya di sel tempat ia ditahan, ia menyerahkan Murlan dan ketiga anaknya kepadaku. Dan bapak Murlan pun juga tak pernah kembali ke ‘kampung pencopet’ selepas ia keluar dari penjara.
***

Dua puluh tahun kemudian…
Murlan berdiri pongah dengan kemeja dan dasi yang melingkar erat di lehernya. Setelah tamat SD, Murlan pindah bersama ketiga adiknya dan Kurniawan. Kurniawan yang merupakan satu-satunya orang yang mau membiayai sekolahnya, kini telah tiada. Walau Kurniawan telah meninggalkan Murlan, namun didikan Kurniawan telah mengubah mental dan perilaku Murlan.

“Pak ‘kampung pencopet’ sudah diakusisi. Tinggal menunggu perintah bapak kapan penggusuran bisa dilaksanakan” seorang pria yang juga memakai kemeja melapor kepada Murlan.

“Besok…aku mau penggusuran dilakukan besok. Aku mau melihat ‘kampung pencopet’ sudah rata dengan tanah besok” ucap Murlan tegas.

“Baik Pak” pria tadi kemudian meninggalkan Murlan yang masih berdiri tegak tepat di depan rumahnya ketika ia masih tinggal di ‘kampung pencopet’. Tidak banyak yang berubah dari kampung pencopet. Profesi warga kammpung pencopet tidak mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Biaya penggantian lahan warga yang akan digusur meski berlangsung alot namun Murlan berhasil menyelesaikannya. Rencananya kampung pencopet akan disulap menjadi sebuah institusi pendidikan yang dimiliki oleh yayasan milik Kurniawan yang kini diwariskan kepada Murlan.

“Mungkin kak Kurniawan akan kecewa dengan perbuatanku yang akan menggusur kampung pencopet. Kampung tempat dimana kita lahir dan dibentuk. Mungkin kak Kurniawan akan mencegahku untuk melakukannya jika Engkau kini berada di sampingku. Namun hanya inilah satu-satunya jalan agar warga kampung pencopet dapat berubah. Aku tidak menelantarkan mereka. aku memberi mereka kesempatan, seperti dulu yang kak Kurniawan lakukan kepadaku. Semoga keputusanku ini tidak membuat kak Kurniawan kecewa karena telah mendidik dan menyekolahkan aku. Semoga Kak Kurniawan dapat tersenyum bangga di Alam sana…”

Selesai…

3 Comments

  1. ranes says:

    konsep ceritanya yang sangat menyentuh dengan menggambarkan kondisi dilematis (antara penggusuran dan maksud perbaikan sosial) seorang murlan betul betul menampakkan karakter menulista’ rizka…

    Menurut saya dialog antara murlan kecil dan kurniawan itu agak sedikit berat :”Sebab Negara kita butuh figur seperti dirimu sepuluh, duapuluh, bahkan tiga puluh tahun kedepan. Anak yang memiliki sikap bertanggung jawab, memiliki pendirian yang kuat, dan penuh kasih”.

    tapi untuk semua ini… semangat dan karyata’ Rizka, sepuluh jempol buatta’..

    seangat..rizka.!!
    keep writin’ on!!

  2. Chinatsu Fujiwara says:

    mantap. keren,..

    teruskanlah,..

    48 jempol bwt kita dr kami ber24!!! ^_^

  3. Igor says:

    Saya suka cerpennya,….!!!
    Saya Pengagum dan Penikimat Cerpen2 Bagus….

    Salam

Leave a Reply