IKA KODONG
IKA KODONG
( Oleh : M. Ridha Anugrah )
Dikisahkan sepasang suami istri yang disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing di kantor, mempunyai seorang putri yang cantik sekali, namanya Ika Puspita Ayu, Orang tuanya sering memanggilnya Ika. Diusianya yang ke empat Ika tinggal bersama orang tuanya dan seorang Bibi/pembantu rumah tangga (pembokap) yang lebih sering merawat dan menjaga Ika dibandingkan dengan Orang Tua Ika.
Namanya juga anak-anak yang suka mengekplorasi dirinya, begitu juga dengan Ika. Sambil bermain-main di halaman, Ika mencoret-coret tanah yang ada di sekitar halaman rumahnya dengan mengunakan sebatang lidi, sementara si Bibi sibuk dengan tugasnya sebagai pembokap yaitu mencuci piring di dapur. Setelah tanah di halaman sudah penuh dengan coretan tangannya, ia merasa tidak puas dengan hanya mencoret-coret tanah di halaman, kemudian Ika melihat ke garasi ada wadah yang cukup luas, mengkilap dan belum ada yang menggambar sesuatu apapun di tempat itu. Akhirnya Ika menemukan sebatang paku berkarat dan menghempaskan lidi yang telah ia kotori dengan tanah, lalu Ika mulai mencoba mengores-gores dinding wadah yang mengkilap itu dengan paku berkarat tadi. Lalu dengan modal paku berkarat tersebut, Ika dapat menggambar pemandangan yang sangat indah baginya di permukaan dinding yang mengkilap itu. Dinding berkilau itu ternyata adalah mobil ayahnya, yang baru-baru saja dihadiahkan oleh kantor tempat ayahnya bekerja. Karena masih baru, mobil tersebut jarang digunakan oleh ayahnya ke kantor. Maka penuhlah mobil tersebut dengan gambar pemandangan yang indah hasil karya tangan Ika sendiri.
* * *
“Ayah pulang…!”. Sayut Ayahnya yang baru saja pulang dari kantor. Ayahnya langsung merangkul Ika dan memberikannya sebuah kecupan di pipinya, dengan bangga Ika memberi tahu ke ayahnya tentang gambar-gambar yang sudah dibuatnya tadi. “Ayah, mau ki cahu apa ku biking? Bisama’ menggambal pemandangan” sahut Ika dengan agak cadel dan sedikit logat Makassar sambil tersenyum. “Oh yah, mana coba Ayah lihat ki?”, Sahut sang ayah kepada anaknya yang tercinta. “Icu Yah diacas canah” celoteh Ika sambil menunjuk kearah tanah yang sudah di coret-coretnya tadi.
Walaupun gambar yang dibuat Ika hanya berupa coretan-coretan seperti cakar ayam, Ayahnya pun berusaha untuk menghibur Ika agar tidak kecewa, Ayahnya mengatakan “Wah, bagus sekali mi ini gambar Ika, ternyata anakku punya bakat menggambar”.
Setelah itu Ika mengajak Ayahnya menuju ke garasi dan memperlihatkan hasil karya Ika yang lebih luar biasa.“Ayah, satu pi lagi gambarku yang harus kita’ lihat, gambar yang paling baik dan tiada duanya di dunia ini”. Sahut Ika. Ayahnya menjawab “Oh yah… ! “.
Tapi malang nasib Ika, bukanlah pujian yang diterimanya lagi, melainkan kemarahan yang sangat besar. Ketika Ayah Ika melihat mobil kesayangannya yang baru di berikan oleh pimpinan kantornya itu penuh dengan coretan-coretan yang tak jelas gambar apa, hanya berupa garis-garis yang tak beraturan.
Maka dilepaskanlah Ika dari rangkulan sang ayah lalu dihentakkan ke lantai, dan yang pertama kali mendapat semprotan amarah adalah si Bibi yang tidak bisa mengawasi Ika selama kedua orang tua ika berada di luar rumah. “Hey kamu apa nu kerja kamu di sini”, gertakan Ayah Ika kepada Bibi. “Maaf Tuan, cuci piring ka tadi di dapur, Tuan. Dan tidak sempat ma lihat apa yang diperbuat oleh Non Ika, sekali lagi ampun Tuan”. Jawab si bibi dengan nada gemetaran.
Lalu giliran anaknya yang akan mendapatkan pelampiasan amarah oleh Ayahnya. Tidak hanya cemohan yang didapatkan Ika, tapi juga dengan pukulan. Dan dipukullah kedua telapak tangan Ika dengan apa saja yang ditemukan Ayahnya di sekitar itu. Mulai dengan sapu, ranting pohon, dan tumpukan lidi yang disertai dengan luapan emosi yang membara-bara.
“Ah…Ampun, Ayah! Sakit….sakit, ampun…!” jerit Ika sambil menahan rasa sakit di tangannya yang sudah mulai berdarah-darah. Sementara asyiknya sang Ayah memarahi Ika, terdengar suara dari pagar rumah. Sesosok wanita karir yang baru saja pulang dari kantor dengan wajah yang letih menuju kearah Ika dan Ayahnya. Wanita itu adalah Ibu kandung Ika, segera sang Ibu menghampiri suami dan anaknya itu. Tapi si Ibu hanya diam saja, seakan-akan mendukung tindakan suaminya yang berusaha untuk mendisiplinkan anak satu-satunya itu. Setelah sejenak diam memperhatikan keduanya, kemudian segera sang Ibu melangkahkan kakinya menuju kamar tidur untuk melepaskan rasa letihnya dengan sedikit istirahat.
Puas menghajar anaknya, si Ayah menyuruh bibi untuk membawa Ika ke kamarnya. Dengan hati yang teriris, si bibi pun membawa Ika ke kamarnya yang berada disamping kamar orang tua Ika. Di kamar Ika, bibi berusaha untuk menenangkan Ika yang masih menangis serasa tak kuat menahan rasa nyeri ditangannya yang sudah berdarah-darah akibat perbuatannya yang telah mencoret-coret mobil baru Ayahnya.
Keesokan harinya, ketika Ika meminta untuk dimandikan, Ika menjerit menahan rasa perih di seluruh tubuhnya terutama bagian tangannya, karena tersentuh oleh air. Hari kedua, tangan Ika mulai membengkak, tapi Ayah dan Ibu Ika sudah berangkat ke kantor sebelum mengetahui kondisi anaknya, yang semakin hari semakin memburuk. Sementara bibi gelisah melihat tangan putri majikannya itu semakin membengkak, segera si Bibi mengangkat gagang telepon dan mencoba untuk melaporkannya ke Ibu Ika melalui pesawat telepon. “Nyonya…, anu nyonya, tangan Ika membengkak” kata bibi dengan sedikit gemetar. “Oleskan saja dengan minyak tawon, sembuh ji itu nanti”. Cuek sang Ibu yang menomor satukan pekerjaan dari pada anak kandungnnya sendiri.
Hari demi hari terus berlalu, tapi orang tua Ika tetap tidak mempedulikan anaknya, dan masing-masing masih sibuk dengan pekerjaan mereka. Hingga suatu hari suhu badan Ika mulai panas karena luka di tangannya sudah terinfeksi. Ketika dilaporkan kembali oleh bibi, orang tuanya pun hanya mengatakan supaya diberi obat penurun panas.
Tiba di suatu malam, dimana seluruh penghuni rumah lelap dengan tidurnya, kecuali Ika yang setengah sadar karena mengigau sambil berteriak-teriak memanggil Ayah dan Ibunya, panasnya pun semakin meninggi, Ika kemudian menjerit kepanasan dan tak kuat menahan rasa nyeri ditangannya. Ika pun kembali mengigau “Ayah….,Ibu….”. Orang tua Ika pun terkejut mendengarkan suara yang memanggil-manggil namanya dari balik dinding sebelah kamar mereka, mereka pun terbangun dari tidurnya dan segera beranjak ke kamar Ika yang tepat berada disamping kamar mereka.
Keduanya mulai panik, si Ayah berusaha menenangkan anaknya dan meyuruh si Ibu membangunkan bibi untuk melihat keadaan Ika. Melihat kondisi Ika yang semakin memburuk, merekapun buru-buru membawa Ika yang sudah tampak melemah ke rumah sakit pada malam itu juga.
Beberapa menit kemudian dari ruang UGD (Unit Gawat Darurat), keluarlah seorang Dokter yang menangani Ika di ruang gawat darurat, dan menyimpulkan hasil diagnosis bahwa demam tinggi yang diderita Ika berasal dari tangannya yang terinfeksi akibat luka yang sudah membusuk.
Setelah seminggu diopname di rumah sakit, dokter memanggil kedua orang tua Ika dan mengatakan, “Tidak ada pilihan lain….”. Dokter mengusulkan agar kedua tangan anak itu harus diamputasi karena infeksinya sudah semakin parah. “Tangan Ika sudah bernanah dan membusuk, untuk mencegah agar tidak menyebar keseluruh tubuh Ika dengan kata lain untuk menyelamatkan nyawanya, maka tangannya harus diamputasi” jelas sang Dokter ke kedua orangtua Ika.
Mendengar berita tersebut, orang tua Ika sangat terkejut dan segera menyalahkan diri sendiri, serta menyesali akan apa yang telah mereka perbuat selama ini terhadap anak kandungnya sendiri, utamanya sang Ayah.
Dengan air mata yang berurai dan tangan yang gemetaran, mereka akhirnya menandatangani surat persetujuan untuk mengamputasi anak semata wayangnya itu. Ika pun mulai di operasi untuk mengamputasi tangan yang mungil, dan masih suci dari perbuatan-perbuatan dosa.
Setelah sadar dari pembiusan operasinya, Ika terbangun sambil menahan rasa sakit dan bingung melihat tangannya yang dibalut dengan kain putih. Ika heran melihat kedua orangtuanya beserta bibi yang menangis di sampingnya. Sambil menahan rasa sakit, Ika berkata kepada Ayahnya dengan nada yang pelan“Ayah…Ika tidak akan melakukannya lagi ! Ika cayang Ayah, cayang Mama, juga cayang bibi. Ika minta ampun sudah mencoret-coret mobil Ayah!”. Merekapun semakin terharu mendengarkan kata-kata dari Ika.
“Ayah.., Ika hanya mohon satu permintaan!, pinta Ika. “Apapun yang Ika minta akan ayah usahakan Nak” jawab lelaki yang merasa sangat berdosa pada anaknya itu.
“Yah, sekarang tolong kembalikan tangan Ika kodong, tolong…! untuk apa tangan Ika diambil, Ika janji tidak akan melakukannya lagi. Bagaimana kalau Ika mau bermain sama teman-teman Ika kalau tangan Ika diambil sama Ayah dan Ibu. Ayah…Ibu….,tolong kembalikaaan tanganku atau Ika pinjam tangan ta’ sebentar mo, Ika hanya ingin menyalami dan memeluk Ayah, Ibu, dan Bibi untuk memohon maaf atas kesalahan ku!”.
Makassar, 26 November 2008

