Sekolah Kita Bukan Sekolah*
“Nak, kamu harus sekolah yang tinggi biar mudah dapat kerja…”
Begitulah pesan para orang tua kepada anaknya.
Sekolah merupakan hal yang wajib di negara ini. Hal itu telah tertulis dengan rapi pada pembukaan UUD 45 yang merupakan hak warga negara serta kewajiban bagi pemerintah. Salah satu upaya pemerintah dalam memberikan hak warga negaranya adalah dengan pengadaan program wajib belajar sembilan tahun. Tapi apakah sekolah hanya sampai pada titik sembilan tahun? Lalu setelah itu apa yang akan kita lakukan, mencari pekerjaan? Apakah memang sekolah merupakan syarat untuk mencari pekerjaan? Bukankah bersekolah dan bekerja sama sekali tidak ada hubungannya.. dan apakah….. (silahkan lanjutkan sendiri)
Kata sekolah berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘scolae’ yang mempunyai arti ‘waktu luang’. Para orang tua di Yunani pada saat itu mengisi ‘waktu luang’ anaknya dengan bermain serta mengajarkan berbagai hal mengenai kehidupan. Sampai pada saat orang tua tidak mampu lagi meluangkan waktunya untuk anak mereka karena mulai disibukkan dengan pekerjaan maka dititiplah anak-anak tersebut kepada orang-orang yang mempunayi ilmu pengetahuan untuk mengisi waktu-waktu luang anaknya untuk beramain dan sesekali belajar. Orang-orang tersebut di beri nama ‘almamother’ yang berarti ‘ibu pengasuh’ yang sampai saat ini kita kenal dalam kata ‘ALMAMATER’ dengan berbagai warna.
Anak-anak tersebut kemudian diasuh dan diberikan bekal pengetahuan oleh almamother. Ketika para orang tua telah selesai bekerja, anak-anak tersebut dijemput untuk kembali kerumah. Tak ada tempat khusus dalam mengasuh anak-anak tersebut. Pengasuhan boleh dilakukuan dimana saja, entah itu di rumah, di pinggir-pinggir jalan kota ataupun di kebun. Begitulah aktifitas warga yunani bertahun-tahun lamanya. Hingga seorang intelektual besar bernama Aristoteles yang dulunya juga melakukan aktifitas scolae bersama alamamater PLATO mengorganisasikan proses pengasuhan kedalam sebuah medium bernama ACADEMOS. Academos kemudian menjadi pusat pengasuhan dimana para almamater berkumpul dan para orang tua mulai menggiring anaknya ke academos. Di academos pulalah anak-anak di berikan ilmu pengetahuan sesuai dengan tingkatan umur serta pengetahuan yang diinginkan.
Hal yang menarik bahwa academos tidak mempunya tempat yang khusus. Masih dengan tradisi yang lama dimana academos bisa di langsungkan dimana saja. Academos ilmu pertanian dilakukan di sawah/kebun, academos ilmu kelautan dilakukan di laut/pantai, academos ilmu social dilakukan di jalanan dan lainnya.
Dan hari ini dikampung kita (bukan Yunani tentunya) berbagai scolae dan academos yang disesuaikan dengan ejaan yang disempurnakan menjadi sekolah dan akademi tumbuh dengan pesat. Anak-anakpun setiap pagi berbondong-bondong menuju keruang-ruang berdinding tembok dimana gambar presiden dan wakilnya terpampang lengkap dengan burung garudanya serta beberapa potret pahlawan. Di dalamnya terdapat bangku serta meja. Anak-anak wajib membawa pensil dan kertas untuk mencatat setiap kata yang keluar dari mulut guru. Anak-anakpun wajib memiliki buku cetakan pabrik berisi berbagai jenis mata pelajaran yang dijual oleh pihak sekolah. Jika bel tanda masuk telah berbunyi maka bergegaslah anak-anak masuk ruang kelas karena jika terlambat akan dihukum oleh guru.
Begitulah anak-anak Indonesia menghabiskan waktunya sekitar 13 tahun (9 tahun wajib) dan mungkin ditambah sekitar 5-7 tahun di ruang-ruang kuliah. Kalau dijumlahkan mungkin sekitar 20 tahun, itupun kalau si anak tidak tinggal kelas. Waktu yang cukup lama tentunya. Lalu, apa yang didapatkan setalah 20 tahun bangun pagi-pagi? Jawabnya, 4 lembar kertas karton berjudul STTB yang lebih keren diistilahkan dengan IJAZAH disertai foto diri berukuran 3×4 yang dicetak kilat, biaya cetaknyapun ditanggung oleh orang tua.
Sekolah hari ini sungguh sangat identik dengan sebuah tempat yang lapang dimana gedung-gedung dibangun didalamnya, terdiri dari ruang kelas, ruang guru/dosen, ruang kepsek/rector, bangku-bangku, pakaian seragam, sepatu seragam, buku seragam, jadwal seragam, mata pelajaran seragam, potongan rambut seragam samapai-sampai otak juga ikutan seragam. Bagaimana tidak, anak-anak Indonesia dijejalkan ilmu pengetahuan yang sama tiap tahunnya oleh pemerintah dalam kurikulum yang telah disempurnakan tanpa pernah bertanya apa sebenarnya bakat serta keinginan si anak. Parahnya lagi, mata pelajaran/kuliah yang ada pada kurikulum yang disempurna-sempurnakan tipa tahun harus diulang-ulang oleh (maha)siswa. Sepertinya, tak ada pelajaran baru ataupun pengetahuan yang berkembang. Sebagai contoh, sejak kelas 4 SD siswa mulai dikenalkan dengan pengetahuan sejarah zaman batu yang katanya PITECANTROPUS ERECTUS hidup. Memasuki SMP kelas 1 kembali PITECANTROPUS ERECTUS muncul di buku catatan siswa. Masuk SMA, PITECANTROPUS ERECTUS menjelma di papan tulis dan terakhir di bangku kuliah semester awal, PITECANTROPUS ERECTUS muncul dengan gagahnya dari sinar LCD para dosen. Sungguh memilukan melihat kejadian tersebut. Sepertinya kemampuan otak anak kelas 4 SD di Indonesia sama persis dengan kemampuan otak mahasiswa semester awalanya. Bahkan tidak mungkin PITECANTROPUS ERECTUS hadir di bangku Pascasarjana. Kalaupun tidak HOMO SAPIENS dipastikan hadir.
Sekolah pada akhirnya bukan tempat menghabiskan waktu luang karena waktu luang tidak terikat dengan jadwal jam pelajaran, istirahat, jam pulang, serta waktu mengerjakan PR. Entah berapa banyak siswa yang ogah-ogahan pergi sekolah karena jemu di sodorkan sedikitnya 12 mata pelajaran. Dari sekian banyak mata pelajaran tersebut, tak satupun yang terselesaikan dengan tuntas. Karena sekali lagi mata pelajaran yang ada hanya diulang dan diulang tanpa ada usaha untuk pengembangan ataupun riset yang lebih lanjut. Begitupun setelah pulang sekolah. Siswa bosan dengan berbagai pekerjaan rumah yang menumpuk. waktu luang yang dimaknai oleh orang-orang yunani terdahulu tentunya tak ada lagi. Semua waktu harus dihabiskan secara mekanik untuk mempelajari semua mata pelajaran serta mengerjakan tugas tanpa pernah tau dimana, bagaimana serta kapan semua hal diterapkan.
Waktu luang anak-anak Indonesia telah direnggut oleh pemerintah. Jika ingin mengambilnya kembali maka orang tua diwajibkan membayar SPP. SPPpun belum cukup. Ada uang pangkal, biaya seragam, biaya buku mata pelajaran, biaya laboratorium, biaya kesehatan, keamanan, kebersihan, ketertiban, biaya ini itu dan terakhir jika ingin lulus harus bayar biaya ujian. Semuanya harus di beli dan di tangung oleh orang tua. Belum lagi jika anak mulai malas kesekolah karena tak dibelikan sepatu serta tas baru yang dilihat di pakai oleh anak-anak di iklan TV, Dan jangan lupa anak-anak tak akan bersekolah jika dia harus mengeluarkan air liur melihat teman-temannya menyantap makanan ringan berpengawet dari kantin yang dikelolah oleh koperasi sekolah.
Sekolah di Indonesia tak lain adalah pabrik untuk menghasilkan generasi yang malas-malasan serta tak cukup mampu bertahan di dunia nyata diluar tembok pembatas sekolah. Pabrik yang bertujuan hanya meraup keuntungan sebanyak banyaknya dari siswa yang mengisi formulir pendaftaran. Alasannya cukup klasik dan aneh, sekolah butuh biaya operasional. Lalu, dimana peran pemertintah yang jelas-jelas dalam UUD mempunyai kewajiban ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’?
Pemerintah seakan lepas tanggung jawab dari fenomena besar ini. Subsidi pendidikan mulai dikurangi secara drastis. Anggaran dari APBN yang katanya 20% diperuntukkan untuk pendidikan tak pernah mencapai target, setengahnya pun tidak. Parahnya lagi, kebijakan pemerintah menyangkut pendidikan sangat-sangat mengecewakan. Perguruan Tinggi Negri (PTN) perlahan-lahan dijadikan PTNsS (Perguruan Tinggi Negri setengah Swasta) dengan penerapan BHP (Badan Hukum Pendidikan) dimana pihak pengelola perguruan tinggi di beri kebebasan dalam mengelola asset (baca:mahasiswa)nya tanpa ada campur tangan lagi dari pemerintah. Hal ini jelas merupakan sebuah raport merah bagi kelangsungan pendidikan di Indonesia. Buntutnya, biaya masuk dan mengikuti perkuliahan pada universitas melonjak tak terkendalai karena sekali lagi pendidikan tak lebih dari pabrik komersil yang berasaskan laba sebesar-besarnya. Rakyat Indonesia yang kemampuan ekonominya jauh di bawah rata-rata tak mampu lagi mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.
Pegetahuan adalah sumber kebaikan. Olehnya, Pendidikan adalah sebuah harga mati bagi setiap manusia yang ada di muka bumi. Tanpa adanya pengetahuan manusia tak mampu lagi membedakan baik buruk. Maka sangat wajarlah ketika stsiun TV bangsa ini setiap hari tanpa henti-hentinya dalam headline news berisi berita buruk. Pengetahuan telah direnggut dari setiap diri manusia-manusia Indonesia oleh pemerintahnya sendiri kerena sekolah kita bukan lagi sebuah sekolah.
*untuk mereka yang diasikkan oleh waktu luang di ruang kelas kehidupan
-giezkaluvorsky-


ah, terlalu jauh pengibaratan yang ada dalam tulisan ini. yangs aya mau tanya, unhas bagaimana? yang ada di depan mata sajalah dicerita, janganmilah terlalu jauh soal yunani scolae, plato, indonesia. kalo menurut saya akan lebih menarik tulisan ini kalau penulis membedah unhas. unhas piye. unhas sebagai lembaga pendidikan dan penerapan bhp. antekamma. kemudian diakhir cerita menfitnah media, wah tambah jauh. atau jangan-jangan, ini hanya mungngkin, penulis enggan bicara unhas, yang ada di depan matanya secara konkrit karena takut? wah, payah tuh. tapi, mudah-mudahan tidak. coba dibahaslah unhas dan kalau ada permasalahan kasi dong solusi. jangan jadi seperti anak kecil yang taunya cuma ngedumel atau mannoko-noko tanpa mampu memberikan solusi. di unhas sudah banyak orang bingung, jangan tambah kebingungannya dengan cerita kegelisahaan tanpa titik terang. terima kasih, saya menanti tulisan selanjutnya
menurutku persoalan yang dialami oleh institusi pendidikan dimana pun sama saja.. bentuknya tidak lebih seperti pabrik yang memproduksi komoditas. bedanya dipabrik ini pekerjanya adalah produk atau komoditas itu sendiri. parahnya pabrik ini adalah yang paling punya peran besar untuk memapankan sistem ekonomi yang timpang ini… mereka memproduksi satu elemen penting dalam relasi ekonomi dunia. buruh/pekerja/karyawan/pegawai/ atau apa pun namanya. mereka memproduksi angkatan kerja. pasarnya tentu adalah pasar kerja. pertanyaanku.. kira2 apa bedanya pola kerja institusi ini dengan pelbagai kasus human traficking yang selama ini banyak dikecam orang?? (sok dijawab…)
untuk UNHAS.. APA YANG BISA DIHARAPKAN DARI KAMPUS “DEKIL” INI??
pola institusi ini melakukan sebuah proses pembelajaran terlebih dahulu sebelum di lempar ke dunia komoditas kerja untuk membuat suatu pembeda yang halus dari sesuatu yang teman Fatalist bilang Human Traficking.
dalam institusi pendidikan proses belajar berorientasi pada peningkatan kapasitas kerjamu. kamu dilatih untuk bisa bekerja. ditambah lagi kamu akan dicekoki dengan pendisiplinan-pendisiplinan moral. sama dengan ketika manusia yang hendak diperdagangkan dipaksa atau diajar untuk patuh kepada Tuannya yang baru.. bukan begitu???
untuk Fatalist :
d mana kampusta kakak?
jgn2 qta melakukan penghinaan trhadap sebuah institusi yg qta sendiri berada dan bermukim d dlmnya…
*_*
sa masih SMA kakak…
jdi gmana dunkZ..?
lanjut kuliah apa gak neh?
klo institusi pendidikan seperti itu…aku juga jadinya skeptis dengan konsep pendidikan yang ada d Indonesia dan telah mengakar begitu lamanya…
gmana klo qta bntuk skolah sendiri yukZ…?
^_^
ga usah de lanjut kerja saja…hahaha
Wah, pasti yang tulis masih bakal lama dapat gelar sarjana.
He.he..he……!!