Mitos mahasiswa
Mahasiswa merupakan elemen yang tak dapat dipisahkan dari sebuah lembaga pendidikan tingkat universitas. Sesuai dengan fungsinya mahasiswa memiliki peran penting yaitu sebagai kontrol sosial (yang nantinya beralih fungsi menjadi modal sosial). Mahasiswa dituntut upayanya dalam mengawal segala bentuk kebijakan-kebijakan politik pemerintahan yang bersinggungan langsung dengan sosial kemasyarakatan beserta segala macam bentuk perubahannya.
Tapi, tidak semua mahasiswa mengambil perannya sebagai kontrol sosial. Kebanyakan mahasiswa hanya berubah wujud menjadi sosok menara gading yang aktifitasnya tak lain mengikuti perkuliahan dan kembali ke bilik masing-masing. Hanya sebagian kecil mahasiswa yang ingin meluangkan waktunya untuk sekedar mengadakan diskusi ringan mengenai keadaan sosial yang berlangsung baik di dalam maupun di luar kampus. Bahkan lebih sedikit lagi jumlah mereka yang memiliki niat tulus turun berdemonstrasi menolak kebijakan-kebijakan pemimpin yang dianggap kurang membawa kesejahteraan orang-orang yang dipimpinnya.
Merekalah yang kemudian menyandang gelar Aktivis Kampus
Ada banyak hal yang diidentikkan terhadap mereka yang mengaku dan diakui sebagai aktivis kampus. Salah satu hal yang dilekatkan kepada kaum kritis ini menyangkut gaya hidup mereka. Aktivis sangat diidentikkan pada gaya hidup serabutan, misalnya jarang makan, sering begadang hingga malas kuliah.
Hal lain yang melekat dan terlihat langsung oleh mata kepala kita yaitu hal-hal bersifat fisik seperti rambut gondrong, pakaian compang-camping serta kurang perawatan tubuh. Semua hal diatas telah menjadi identitas tersendiri bagi mereka yang ingin menjadi aktifis.
Kembali kita telaah lebih dalam, bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang subtansial. Bagi mereka yang tidak menjalani gaya hidup demikian dan tetap menjalankan perannya sebagai mahasiswa tetap pantas dikatakan Aktivis.
Sayangnya kebanyakan mahasiswa hanya mengambil bagian permukaan dan membuang isi dalamnya. Para mahasiswa berlomba-lomba menjalankan pola hidup demikian agar setidaknya mereka dikatakan mahasiswa sebagaimana mahasiswa yang menjalankan fungsinya sebagai (hal ini mungkin juga mitos) “kontrol sosial” dengan cara berdandan ala aktivis.
Maka tidak afdol rasanya jika seorang aktivis tidak “urakan”.
Agar tidak menghakimi, mungkin saja gaya hidup demikian erat kaitannya dengan factor ekonomi, factor yang sebagian penggiat kajian (aktifis pergerakan pasti mengenal orang ini) “Marx” menjadi factor “determinan” dalam krisis social saat ini. Ya, tidak semua aktifis memiliki kekuatan ekonomi keluarga yang mapan, dan mungkin saja factor inilah yang menjadi salah satu pemicu para mahasiswa kelas ini untuk menengelamkan kepalanya dalam buku-buku wacana mencari jawaban atas ketidakadilan ekonomi hingga menemukan sebagian jawaban dari orang-orang yang merampas hak orang kecil.
Sihir modernisasi melahirkan status quo bagi anak2 muda yang beruntung memiliki orang tua yang mapan secara ekonomi. Mereka yang tercukupi hidupnya dengan berbagai material tak merasakan kontradiksi ekonomi yang sama dengan mahasiswa (maaf) miskin, sehingga membuat mereka ogah-ogahan memikirkan nasib saudaranya yang kurang beruntung. Kesibukan mereka hanya satu, bagaimana menyelesaikan kuliah dengan cepat hingga mendapatkan pekerjaan yang layak tanpa harus terlibat masalah dengan aparat keamanan di jalan.
Bukannya melempar kesalahan terhadap mereka yang beruntung secara ekonomi, mengingat kehadiran salah satu subkultur yang telah diakui perlawanannya terhadap ketidakadilan social lahir dari anak muda yang memilih meninggalkan kemapanan ekominya. Tetapi, Lebih celaka lagi bagi mereka yang kurang beruntung yang hanya tinggal diam dengan keadaannya.
Mungkin inilah mitos kecil yang berlangsung dilingkungan mahasiswa dimana gelar kesarjanaan berada tepat di depan nama lengkapnya.
Sekian banyak orang telah memikirkan bahkan telah menuliskan hal demikian jauh sebelumnya. Pada akhirnya, Heuheuheu.. Hidup mahasiswa!


