Kerajaan Kecil Di Kota Kalong

Setiap

Setiap orang ingin berkuasa

Setiap orang ingin mempunyai jabatan

Setiap orang ingin memerintah

Setiap orang mau dihormati

Tapi tidak setiap orang mau bertanggungjawab atas perbuatannya.

Kerajaan Kecil Di Kota Kalong

Oleh: M Ridha Anugrah

Pertama kali menginjakkan kaki di Kabupaten Soppeng, perasaan ini sungguh sejuk. Sepanjang jalan sejak memasuki daerah ini kita jarang menemukan sampah berserakan. Penataan kota yang rapi, halaman rumah bersih, dan penduduk yang ramah. Kesemuanya terlalu indah bagiku dibanding dengan tempatku yang katanya Kota Besar (Makasar) namun kotor, bau, dan penuh dengan preman. Pantaslah kalau kota kalong (kelelawar) ini “berhiber” (bersih, hijau, berbuah, dan berbunga), slogan yang kulihat setelah melewati gerbang selamat datang di Soppeng. Namun ternyata sistem pemerintahan yang berlaku di daerah yang banyak kalelawarnya ini masih menggunakan sistem kerajaan yang diwariskan oleh nenek moyang.

Kebersihan adalah sebagian dari iman. Pepatah inilah yang senantiasa digunakan oleh penduduk yang mayoritas beragama islam ini. Mereka senantiasa membersihkan diri berangkat dari kepercayaan mereka. Tapi tidak hanya itu, pengaruh dari pemerintah juga cukup kuat dalam menggerakkan masyarakat untuk senantiasa hidup bersih, agar Soppeng merebut piala Adipura untuk yang kesekian kalinya. Setiap jumat pagi, hampir disetiap pengkantoran, tempat-tempat umum seperti pasar, terminal, dan sekolah melaksanakan kerja bakti bersama. Jangan heran jika kota ini pernah meraih piala Adipura karena partisipasi dan kesadaran masyarakat sangat tinggi meski di hantui oleh perintah atasan mereka.

Tingkat kriminalitas di Soppeng sangat rendah. Saat ini berada di urutan ketiga setelah Makassar dan Bone. Bayangkan saja ketika kami hendak mengembalikan kunci motor milik warga yang kami tempati tinggal selama di Soppeng ini mengatakann bahwa “Simpan meki itu kunci dimotor tidak hilang ji itu”. Kami heran mendengar seruan warga, tapi setelah mengamati berhari-hari ternyata memang benar, sehabis menggunakan motor mereka senantiasa membiarkan kuncinya melekat dimotor. Kebiasaan ini bukan hanya terjadi ditempat saya tapi juga di daerah lain seperti di desa salokaraja dan sekitarnya.

Hampir disetiap warung yang kami singgahi atau penduduk yang kami jumpai dijalan selalu melemparkan senyuman ramahnya dan enak diajak berkomunikasi. Orang Soppeng memang ramah-ramah, sopan, dan murah senyum. Contohnya saja Pak Syamsuddin pensiunan PNS yang saat ini usaha kecil-kecilan dirumahnya, ia yang duluan menyapa kami dengan senyuman ketika kami hendak membeli sesuatu di tempatnya. Selain itu, ketika kami bertanya tentang suatu alamat dijalanan mereka senantiasa menjawabnya dengan ramah.

Tapi dibalik semua itu, masih ada kekurangan yang entah disadari atau tidak. Setiap kepala pemerintahan di kaupaten ini baik yang eksekutif maupun yang legislatif atau setiap kepala dinas umumnya masih keturunan raja ditandai dengan nama “Andi”. Mereka kadang menjabat tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka, ada yang lulusan pertanian menjadi kepala pemerintahan (Camat, lurah atau desa), ada yang pindah berkali-kali dari dinas pariwisata, pindah di dinas pendidikan, pindah lagi di kantor kelurahan, terus dimutasi lagi ke kontor bupati. Siapa saja yang mau jadi pejabat maka harus berasal dari keturunan raja yang bergelar Andi. Mereka-mereka ini dipanggil “pung” tanda hormat kepada para keturunan Raja. Ketika kami beraudiensi dengan salah satu kepala dinas yang ada di Kabupaten Soppeng, ia mengeluhkan pekerjaannya yang harus menandatangani bertumpuk-tumpuk proposal dan mesti rapat kesana-kemari. “Itulah resikonya jika pengalaman tidak berbanding dengan pekerjaan” keluhku bersama teman-teman yang lain.

Kerajaan kecil ini mengalir dari tahun ketahun, entah sampai kapan kerajaan ini bertahan. Akankah sistem pemerintahan kita masih berbentuk kerajaan? sehingga para pejabat kita tidak begitu berkualitas sesuai dengan latar belakang pendidikan dan keahlian yang mereka miliki. Atau memang ini merupakan sifat yang diturunkan oleh kalelawar yang bertebaran ditengah Kota Soppeng ini. (RD)

2 Comments

  1. okto says:

    ridha, bukan “puang” panggilannya tapi “pung”. selain kelebihan yg dimiliki orang soppeng seperti di atas, masyarakatnya sangat religius, memiliki etika komunikasi yang baik, sikap menghargai orang lain dan ada kalimat yang selalu di perdengarkan ketika kita sedang berada di soppeng: “orang soppeng terkenal tidak pelit akan makanan”. memang betul pernyataan itu sebab dimana-mana selalu saja hal itu tersedia.

  2. Ridho says:

    Sorry salah ketik Mas Okto (nanti sy ganti).
    Betul, setiap kali kita mampir kerumah warga pasti disodiri makanan, pantas gemuk-gemuk anak KKN gel.76 wkwkwkw

Leave a Reply